Bahder Djohan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Bahder Djohan | |
|---|---|
| Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia ke-6 | |
| Masa jabatan 6 September 1950 – 20 Maret 1951 | |
| Presiden | Soekarno |
| Didahului oleh | Sarmidi Mangunsarkoro |
| Digantikan oleh | Wongsonegoro |
| Masa jabatan 3 April 1952 – 30 Juli 1953 | |
| Presiden | Soekarno |
| Didahului oleh | Wongsonegoro |
| Digantikan oleh | Mohammad Yamin |
| Presiden Universitas Indonesia ke-3 (Rektor UI) | |
| Masa jabatan 1954 – 1958 | |
| Didahului oleh | Soepomo |
| Digantikan oleh | Soedjono Djoened Poesponegoro |
| Ketua Umum Palang Merah Indonesia ke-4 | |
| Masa jabatan 1952 – 1954 | |
| Didahului oleh | BPH Bintoro |
| Digantikan oleh | Paku Alam VIII |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 30 Juli 1902 |
| Meninggal | 08 Maret 1981 |
| Suami/istri | Siti Zairi |
| Anak | Ilya Waleida |
| Tempat tinggal | Jalan Kimia No. 9 Menteng, Jakarta 10320 |
| Alma mater | School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) |
| Agama | Islam |
Bahder Djohan (lahir di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat, 30 Juli 1902 – meninggal di Jakarta, 8 Maret 1981 pada umur 78 tahun) adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada Kabinet Natsir dan Kabinet Wilopo.
Daftar isi
[sembunyikan]Asal usul[sunting | sunting sumber]
Bahder Djohan merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara pasangan Mohamad Rapal gelar Sutan Boerhanoedin orang Koto Gadang, Agam, dengan Lisah yang berasal dari Alang Laweh, Padang. Ayahnya berprofesi sebagai jaksa. Bahder Djohan menerima gelar Marah Besar pada pernikahannya dengan Siti Zairi Yaman.
Latar belakang[sunting | sunting sumber]
Djohan bersekolah pertama kali pada sekolah Melayu di Kampung Pondok, Padang. Pada tahun 1910, dia pindah sekolah kePayakumbuh, mengikuti penempatan ayahnya. Pada tahun 1913, Djohan masuk sekolah 1e Klasse Inlandsche School di Bukittinggi. Di kota inilah Djohan berkenalan dengan Mohammad Hatta, yang kelak menjadi sahabat baiknya semasa sekolah maupun perjuangan. Hanya dua tahun ia bersekolah di Bukittinggi, sebelum akhirnya pindah ke HIS Padang. Pada tahun 1917, Djohan menyelesaikan pendidikannya di HIS dan melanjutkan ke MULO di kota yang sama.
Tahun 1919, Djohan diterima di STOVIA, Batavia dan tinggal di asrama yang terdapat dalam kompleks sekolah itu. Pendidikan di STOVIA dilaluinya lebih kurang 8 tahun. Pada tanggal 12 November 1927, ia menyelesaikan ujian akhir dan lulus dengan memperoleh gelar “Indish Arts”.
Kehidupan[sunting | sunting sumber]
Pada masa muda, Djohan merupakan salah satu pimpinan Jong Sumatranen Bond. Dia aktif terlibat dalam kepanitiaan Kongres Pemuda. Dalam Kongres Pemuda I, Djohan menyampaikan pidato tentang kedudukan wanita. Pidatonya yang berjudul "Di Tangan Wanita," dilarang beredar oleh pemerintah Hindia Belanda.[1]
Dr. Bahder Djohan adalah salah satu anggota panitia yang terdiri dari lima orang yang mempersiapkan terbentuknya Palang Merah Indonesia pada tanggal 17 September 1945, sebagai penulis, bersama Dr. R. Mochtar sebagai ketua dan Dr. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki dan Dr. Sitanala sebagai anggota.[2][3]
Setelah periode kemerdekaan, Djohan diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada Kabinet Natsir (1950-1951) dan Kabinet Wilopo (1952-1953). Pada tahun 1953 dia duduk sebagai direktur RSUP Jakarta (sekarang RSCM). Kemudian Djohan dipilih untuk menjabat Rektor Universitas Indonesia. Namun pada tahun 1958 sebelum masa jabatannya habis, Djohan mengundurkan diri. Dia tak setuju dengan pemerintah, yang menyelesaikan peristiwa PRRI dengan cara peperangan.[4]
Referensi[sunting | sunting sumber]
- Djohan, Bahder, Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan , PT Gunung Agung, Jakarta, 1980
- Hatta, Mohammad, Mohammad Hatta Memoir, Tinta Mas Jakarta, 1979
Catatan kaki[sunting | sunting sumber]
- ^ Bahder Djohan, Stien Adam, Darsjaf Rachman, Di Tangan Wanita, Idayu, 1975
- ^ Pendiri PMI
- ^ Panitia tersebut terdiri atas dr R Mochtar sebagai Ketua, dr Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu dr Djoehana Wiradikarta, dr Marzuki, dr Sitanala.
- ^ Majalah Tempo, 14 Maret 1981
Tidak ada komentar:
Posting Komentar